SEJARAH MUSEUM NASIONAL INDONESIA

SEJARAH SINGKAT MUSEUM NASIONAL INDONESIA

 

 

    Museum Nasional Indonesia atau yang dikenal dengan Museum Gajah adalah museum sejarah, arkeologi, etnografi, dan geografi. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Museum ini terletak di Jalan Medan Merdeka Barat 12, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat 10110

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

 

    Buka setiap Selasa - Minggu pukul 09.00 - 15.00 WIB. Museum tutup setiap hari Senin dan hari libur nasional.

 

    Harga Tiket :

        - Dewasa, Rp.5.000 per orang

        - Anak - anak, Rp.2.000 per anak

        - Turis luar negeri, Rp.10.000 per orang

 

    Ayok kita ke sini bareng, harganya juga sangat terjangkau banget dikalangan masyarakat. Apalagi sebentar lagi libur lebaran pasti pada dapet THR ya😆 ga rugi dong spend uang dan waktunya kesini. Selain belajar sejarah juga bisa sambil foto-foto, karena banyak sekali spot foto yang instagramable dan juga bisa bikin konten tiktok. Nih, aku kasih contoh gambar spot foto nya: 

 

 

Udah pasti bagus kalo kalian foto ootd disini

 

Lanjut yuk bahas lebih lanjut tentang sejarah museum ini

 

    Kok bisa di kenal dengan Museum Gajah sih? berikut penjelasannya. Karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871.

 

 

Awal Mula Dibangun Museum Nasional Indonesia

 

    Cikal bakal Museum ini diawali dengan berdirinya suatu organisasi bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Himpunan ini didirikan oleh pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu, Eropa tengah sedang terjadi revolusi intelektual, yaitu dimana orang-orang mulai mengembangkan pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri  De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis. 

    Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, Berta menerbitkan hash penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

    Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Kecuali itu ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna, sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

    Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung “Societeit de Harmonie”). Bangunan ini berlokasi di jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung sekretariat Negara, di dekat Istana kepresidenan.

    Jumlah koleksi milik BG terus neningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dutu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau “Sekolah Tinggi Hukum” (pernah dipakai untuk markasKenpetai di masa pendudukan Jepang, dan sekarang Departemen Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868.

    Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar “koninklijk” karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: “memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”.

    Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

    Kini Museum Nasional bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Nasional mempunai visi yang mengacu kepada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa”.

 

Beberapa Koleksi Museum Nasional

 

    Hingga saat ini, Museum Nasional Indonesia memiliki sekitar 160.000 koleksi benda-benda bersejarah. Koleksi dari Museum Nasional dapat dibagi ke beberapa bagian, di antaranya:

1.Koleksi Prasejarah, seperti gerabah, kapak batu, peralatan yang terbuat dari tulang, tanduk, kulit kerang, kapak upacara, bejana upacara, nekara, dan manik-manik yang terbuat dari bahan kaca. berikut salah satu contohnya :

 

Kendi

2. Koleksi Arkeologi, seperti arca dewa Hindu, arca Budha, arca perwujudan, arca binatang, ornamen, benda perhiasan, peralatan upacara, peralatan mata pencaharian hidup, bagian bangunan, alat musik, mata uang, prasasti, dan lain-lain. berikut salah satu contohnya :

Kakawin Sutasoma

3.  Koleksi Numimastik dan Heraldik, seperti mata uang dan lambang tanda jasa.

 

Rupiah/Gulden

4. Koleksi Geografi, berupa peta tentang aneka budaya bangsa Indonesia, peta kuno tentang dunia sekitar abad ke 16-19 Masehi, peta Indonesia abad ke 16 Masehi, peta perkembangan kota Batavia abad ke 16-17 Masehi, peta kota Banten lama tahun 1670 serta daerah lainnya.

Pinisi Boat

    Terdapat juga koleksi-koleksi berupa piring, mangkuk, botol, kendi, dan guci yang terbuat dari keramik (porselin) yang berasal dari Cina. Terdapat juga beberapa koleksi lukisan, seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, dan pelukis asing lainnya.

 

AKSES MENUJU MUSEUM NASIONAL

    Akses menuju Museum Nasional yang terletak di kawasan Jl. Merdeka Barat No 12, Jakarta sangat mudah. Bisa menggunakan Transjakarta berhenti tepat di depan museum atau bisa menggunakan commuterline turun di stasiun Gondangdia atau Sudirman kalo naik MRT bisa turun di Stasiun Bundaran HI dan lanjut mengunakan ojek online ke Museum Nasional Jakarta. Cukup gampang sekali ya aksesnya kawan-kawan

 

    Sekian sejarah singkat tentang museum ini. Jangan bosan belajar sejarah ya apalagi kalo belajarnya langsung dateng ke museumnya dijamin seru banget deh, apalagi kalo datengnya sama pacar atau orang tersayang hihi. Terimakasih all😍

 


Komentar

Posting Komentar